PENYAKIT MAAG (Pengertian, Jenis, Penyebab dan Pengobatan)
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh
Wuzzup lads, How ya doin ? great r8
?
Kali ini saya akan membahas tentang
salah satu penyakit yang sering di derita anak kostan ketika akhir bulan, yaitu
maag. Sederhanamya maag adalah gejala peradangan pada lambung yang disebabkan
oleh faktor faktor tertentu. Nahhh, kalua mau tau lebih dalam tentang apa itu
maag, let’s check this blog.
A. PENGERTIAN GASTRITIS (MAAG)
A. PENGERTIAN GASTRITIS (MAAG)
Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa
yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti
inflamasi/peradangan. Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal, tetapi
terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan
pada lambung. Biasanya, peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi oleh
bakteri yang sama dengan bakteri yang dapat mengakibatkan borok di lambung
yaitu Helicobacter pylori. Tetapi faktor-faktor lain seperti trauma fisik dan
pemakaian secara terus menerus beberapa obat penghilang sakit dapat juga
menyebabkan gastritis.
B.
JENIS-JENIS GASTRITIS (MAAG)
Secara umum maag atau gastritis
dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu gastritis akut dan gastritis kronik.
1. Gastritis
Akut
Gastritis akut adalah inflamasi akut pada sebagian besar
kasus merupakan penyakit yang ringan dan sembuh sempurna. Gastritis akut juga
disebabkan oleh inflamasi mukosa lambung akibat diet yang asal asalan.
Pengertian lainnya mengatakan gastritis superfisial akut merupakan penyakit
yang biasa ditemukan biasanya jinak dan dapat sembuh sendiri merupakan respon
mukosa lambung terhadap berbagai iritan
local (Hirlan,2001:127)
2. Gastritis
Kronik
Gastritis kronik adalah kondisi dimana lambung
penderita penyakit maag kronis mungkin mengalami inflamasi (reaksi tubuh
terhadap mikroorganisme dan benda asing yg ditandai oleh panas, bengkak, nyeri,
dan gangguan fungsi organ tubuh) kronis dari tipe gangguan tertentu.
C.
PENYEBAB GASTRITIS
Ada beberapa
faktor yang menyebabkan gastritis kambuh, diantaranya adalah :
1.
Frekuensi Makan
Frekuensi makan adalah jumlah makan dalam
sehari-hari baik kualitatif dan kuantitatif.
Secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan
mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat
dan jenis makanan. Jika rata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam. Maka
jadwal makan ini pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung (Okviani, 2011).
Secara alami lambung akan terus memproduksi
asam lambung setiap waktu dalam jumlah yang kecil, setelah 4-6 jam sesudah
makan biasanya kadar glukosa dalam darah telah banyak terserap dan terpakai
sehingga tubuh akan merasakan lapar dan pada saat itu jumlah asam lambung
terstimulasi. Bila seseorang telat makan sampai 2-3 jam, maka asam lambung yang
diproduksi semakin banyak dan berlebih sehingga dapat mengiritasi mukosa
lambung serta menimbulkan rasa nyeri di seitar epigastrium (Baliwati, 2004).
Kebiasaan
makan tidak teratur ini akan membuat lambung sulit untuk beradaptasi. Jika hal
itu berlangsung lama, produksi asam lambung akan berlebihan sehingga dapat
mengiritasi dinding mukosa pada lambung dan dapat berlanjut menjadi tukak
peptik. Hal tersebut dapat menyebabkan rasa perih dan mual. Gejala tersebut
bisa naik ke kerongkongan yang menimbulkan rasa panas terbakar (Nadesul, 2005).
2.
Jenis Makanan
Jenis makanan adalah variasi bahan makanan yang
kalau dimakan, dicerna, dan diserap akan menghasilkan paling sedikit susunan
menu sehat dan seimbang. Menyediakan variasi makanan bergantung pada orangnya,
makanan tertentu dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti halnya makanan
pedas Mengkonsumsi makanan pedas secara berlebihan akan merangsang sistem
pencernaan, terutama lambung dan usus untuk berkontraksi. Hal ini akan
mengakibatkan rasa panas dan nyeri di ulu hati yang disertai dengan mual dan
muntah. Gejala tersebut membuat penderita makin berkurang nafsu makannya. Bila
kebiasaan mengkonsumsi makanan pedas lebih dari satu kali dalam seminggu selama
minimal 6 bulan dibiarkan terus-menerus dapat menyebabkan iritasi pada lambung
yang disebut dengan gastritis (Okviani, 2011).
Gastritis dapat disebabkan pula dari hasil
makanan yang tidak cocok. Makanan tertentu yang dapat menyebabkan penyakit gastritis,
seperti buah yang masih mentah, daging mentah, kari, dan makanan yang banyak
mengandung krim atau mentega. Bukan berarti makanan ini tidak dapat dicerna,
melainkan karena lambung membutuhkan waktu yang labih lama untuk mencerna
makanan tadi dan lambat meneruskannya kebagian usus selebih-nya. Akibatnya, isi
lambung dan asam lambung tinggal di dalam lambung untuk waktu yang lama sebelum
diteruskan ke dalam duodenum dan asam yang dikeluarkan menyebabkan rasa panas
di ulu hati dan dapat mengiritasi (Iskandar, 2009).
3.
Porsi Makan
Porsi atau jumlah merupakan suatu ukuran maupun
takaran makanan yang dikonsumsi pada tiap kali makan. Setiap orang harus makan
makanan dalam jumlah benar sebagai bahan bakar untuk semua kebutuhan tubuh.
Jika konsumsi makanan berlebihan, kelebihannya akan disimpan di dalam tubuh dan
menyebabkan obesitas (kegemukan). Selain itu, Makanan dalam porsi besar dapat
menyebabkan refluks isi lambung, yang pada akhirnya membuat kekuatan dinding
lambung menurun. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan peradangan atau luka
pada lambung (Baliwati, 2004).
4.
Stress
Stress secara umum dibagi 2, yaitu stress secara psikis dan stress
secara fisik. Stress secara psikis artinya stress dan tekanan pikiran yang
menyebabkan produksi asam lambung meningkat pada keadaan stress secara
psikis, misalnya pada beban kerja berat, panik dan tergesa-gesa. Kadar asam
lambung yang meningkat dapat mengiritasi mukosa lambung dan jika hal ini
dibiarkan, lama-kelamaan dapat menyebabkan terjadinya gastritis. Bagi sebagian
orang, keadaan stres umumnya tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, maka
kuncinya adalah mengendalikannya secara efektif dengan cara diet sesuai dengan
kebutuhan nutrisi, istirahat cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang cukup.
Ssedangkan stress fisik seperti misalnya akibat pembedahan besar, luka trauma,
luka bakar, refluks empedu atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan
juga ulkus serta pendarahan pada lambung. Perawatan terhadap kanker seperti
kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan pada dinding lambung yang
selanjutnya dapat berkembang menjadi gastritis dan ulkus peptik. Ketika tubuh
terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi
dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi permanen dan
dapat mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar-kelenjar penghasil asam
lambung (Friscaan, 2010).
5.
Pola Makan
Gastritis biasanya diawali oleh pola makan yang
tidak teratur sehingga lambung menjadi sensitif bila asam lambung meningkat.
Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran macam dan model
bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Pola makan terdiri dari frekuensi
makan, waktu makan dan jenis makanan. Pola makan yang baik dan teratur
merupakan salah satu dari penatalaksanaan gastritis dan juga merupakan tindakan
preventif dalam mencegah kekambuhan gastritis. Menurut Yayuk Farida Baliwati
(2004), terjadinya gastritis dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak baik
dan tidak teratur, yaitu frekuensi makan, jenis, dan jumlah makanan, sehingga lambung
menjadi sensitif bila asam lambung meningkat.
D.
PENGOBATAN PENYAKIT MAAG
Penyakit maag dapat diredakan dengan berbagai cara
diantaranya adalah :
a.
Mengkompres dengan air hangat
b.
Minum air hangat
c.
Hindari makanan pedas, asam dan terlalu panas yang
dapat memicum asam lambung naik
d.
Jaga pola makan dan porsi makan
e.
Hindari stress
f.
Bila perlu konsumsi obat obat antasida
g.
Bisa juga menggunakan bahan bahan alami seperti
temulawak (sudah ada dalam bentuk ekstrak dan pil), air jahe dan lain
sebagainya
Daftar pustaka
Anne, Ranti L dan Santoso, Soegeng. 2004 . Kesehatan dan Gizi. Jakarta : PT.Asdi Mahasatya
Baliwati, Y. F. 2004. Pengantar
Pangan dan Gizi, Cetakan I. Jakarta: Penerbit Swadaya.
Hirlan, 2001, Gastritis, in: Suyono S., ed., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV:127 Depkes
RI, 2009. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta
Sulistyoningsih, Hariyani. 2011. Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Suyono, Slamet. (2001). Buku
ajar penyakit dalam II. FKUI. Jakarta : Balai Pustaka.
Itu dia ma
brooo, udah tau banyak kan tentang penyakit maag. Belum ? bodo amat wkwkwkwkwk, kidding ^-^. I hope this blog bisa membantu kalian semua, walaupun ga bagus bagus amat dan
terkesan asal asalan tapi gwaenchana lah, hehehe. Thank you for coming and reading. Wassalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh

Makanya jgn bikin saia stress🤤🤤
BalasHapusPaan seh bebeb ❤
Hapussgt bermanfaat kak
BalasHapusYes aha :v
BalasHapusBagus ka
BalasHapusBermanfaat
BalasHapusJadi nambah ilmu
BalasHapusHiyahiyahiya :v
BalasHapusSngat bagus
BalasHapusWowww
BalasHapuswah keren , jadi tau tentang penyakit maag:)
BalasHapusMakasih ka infonya. Sangat membantu
BalasHapusWahhh bgus
BalasHapusNice kak
BalasHapusMakasih ka infonya
BalasHapusArtikelnya bagus kak
BalasHapusMenambah banyak ilmu. Jadi tau penyebab maag. Thx kak
BalasHapusHaus
BalasHapussubhanallah sangat bermanfaat buat semua makhluk bumi
BalasHapusTerimakasih lo info nya
BalasHapusBermanfaat. Terima kasih ilmunya 😊
BalasHapusSukaa
BalasHapusunchhh kaa
BalasHapusUwowwww
BalasHapusJangan telat makan juga tpi
BalasHapusterimakasih informasinya
BalasHapusterimakasih banyak infonya
BalasHapusWah dapat ilmu baru lagi, tq informasinya kak
BalasHapusBermanfaat.
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih infonya..sangat bermanfaat
BalasHapusInfo yg sangt bermanfaat
BalasHapusTerimakasih info nya sangat bermanfaat
BalasHapusterima kasih infonya kak
BalasHapusWahh sangat bermanfaat ni
BalasHapusTerima kasih ka artikel nya bagus
BalasHapusmakasih infonya kak
BalasHapusBagus A Piyo
BalasHapus