Temulawak


Assalamualaikum,
Wuzzup Lads, pernah dengar Temulawak ? Atau bahkan pernah memakan atau meminum nya ? Atau mungkin teman teman kita yang farmasis ada yang sudah mengolah nya menjadi suatu bentuk sediaan obat ?
Nah kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang apa itu temulawak dan apa saja zat zat berkhasiat di dalam nya juga sediaan apa yang akan saya buat. Let’s check this out!




Temulawak adalah salah satu tanaman semak tahunan. Temulawak dengan nama ilmiah Curcumae xanthorrhiza Roxb. Temulawak di berbagai daerah berbeda beda namanya. Di daerah jawa Temulawak dikenal juga dengan temu besar. Di daerah Sunda dikenal dengan koneng gede. Sedangkan di daerah Madura di kenal dengan temulabak (Utami, 2008).
        Ciri umum dari temulawak adalah tinggi tanaman nya sekitar 50 – 200 cm. Tumbuh tegak lurus berumpun di tanah. Daunnya berwarna hijau tua, bergaris garis coklat serta ada bitnik bitnik hijau muda. Daun nya merupakan daun semu. Memiliki bunga pendek dan lebar, serta berkembang secara teratur berwarna putih atau kuning muda. Memiliki umbi batang berbentuk bulat telur. Penampang rimpang berwarna kuning tua, beraroma tajam dan rasa nya pahit. Bagian yang biasa digunakan untuk pengobatan adalah bagian rimpang (Utama, 2008).
Zat berkhasiat yang paling banyak digunakan pada temulawak adalah pati, kurkuminoid, dan minyak atsiri. Pati merupakan kandungan kimia terbesar dari temulawak. Pati temulawak berwarna putih kekuningan karena mengandung kurkuminoid. Kadar protein pati temulawak lebih tinggi dibandingkan dengan pati tanaman lainnya sehingga dapat digunakan sebagai bahan makanan. Kurkuminoid pada temulawak terdiri atas kurkumin dan desmetoksikurkumin. Kurkuminoid merupakan kandungan kimia yang memberikan warna kuning pada rimpang temulawak. Kurkuminoid mempunyai aroma khas, tidak toksik (tidak beracun), dan berbentuk serbuk dengan rasa sedikit pahit. Minyak atsiri pada temulawak mengandung Felandren. Di dalam komponen minyak atsiri juga terdapat xanthorrhizol, yang hanya terdapat pada minyak atsiri rimpang temulawak. Xanthorrhizol memiliki aktivitas antibakteri, antiseptik, dan antibiotik serta antikanker (Prasetyo, 2003).
Temulawak dapat dimanfaatkan sebagai obat, sumber karbohidrat, bahan penyedap masakan dan minuman, serta pewarna alami untuk makanan dan kosmetika. Berdasarkan pengalaman dan penelitian yang telah ada, temulawak telah terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Temulawak dapat digunakan sebagai obat anti inflamasi yang efektif untuk mengobati penyakit radang sendi, rematik atau artritis rematik. Melaui aktivitas hipokolesterolemiknya temulawak dapat menurunkan kadar kolesterol total dan mempunyai indikasi meningkatkan kadar lipoprotein densitas tinggi kolesterol (Prasetyo, 2003).
Temulawak juga mempunyai sifat antijamur terhadap beberapa jamur golongan dermatophyta. Selain itu, temulawak juga memiliki sifat bakteriostatik atau antibakteri. Secara tradisional temulawak telah banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan untuk berbagai keperluan, misalnya untuk menambah nafsu makan, mengatasi kencing batu, sakit kuning, ambeien, diare, sakit maag, asma, sariawan, batuk, panas, pegal-pegal, serta untuk memperbanyak ASI (Prasetyo, 2003).
Nama lain                   : Temu lawak / koneng gede
Nama tanaman asal     : Curcuma xanthorrhiza (roxb)
Keluarga                     : Zingiberaceae
Zat berkhasiat   : Minyak atsiri mengandung felandren dan xanthorrhizol, tumerol, zat warna kurkumin dan kadar minyak tidak lebih dari 8,2% (b/v)
Kegunaan                  : Kolagoga, antispasmodik
Pemerian                  : Bau khas aromatik, rasa tajam dan pahit
Waktu panen            : 9 bulan atau lebih
Penyimpanan            : Dalam wadah tertutup baik
Bagian yang digunakan : Rimpang (Kusumawati dan Juni, 2018)
Itu saja yang dapat saya bagikan kepada anda. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Salah khilaf mohon maaf. Wassalamualaikum boi 🤙






Daftar pustaka
Kusumawati, Ghuroh , Juni , Purnomowati.2018. Farmakognosi Dasar
                    Jakarta : EGC
Prasetyo, Y. T., 2003. INSTAN : Jahe, Kunyit, Kencur dan Temulawak.
                    Yogyakarta : Kanisius
Utami, Prapti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Jakarta : Agromedia
                     Pustaka




Komentar

  1. ga nyangka temulawak bisa begitu! terimakasih infonya ka

    BalasHapus
  2. Wahh ternyata temulawak hebat.

    BalasHapus
  3. Terimakasih infonya,sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  4. Kerennnn terimakasih sangat bermanfaat

    BalasHapus
  5. Makasih infonya berguna sekali

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Sangat bermanfaat sekali informasinya. Terimakasih Mas Iyo

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Terima kasih infonya, sangat berguna

    BalasHapus
  10. Terimakasih informasi nya ini sangat bermanfaat

    BalasHapus
  11. wah hebat, sangat bermanfaat dan berguna terimakasih ka ��

    BalasHapus
  12. Makasih, sangat bermanfaat loh

    BalasHapus
  13. Makasih, sangat bermanfaat loh

    BalasHapus
  14. sangat bermanfaat skali infonya

    BalasHapus
  15. nice kak artikelny, dpt info baru nih..semangat

    BalasHapus

Posting Komentar